Tujuh Hari Untuk Selamanya: Day 2 - Tidak Bersahabat dengan Cuaca
Hari kedua kami akan hiking ke Mount Cook! Kami akan melewati sabana luas, menyeberang jembatan gantung, dan naik ke gunung salju! Setidaknya begitulah yang tercatat di itinerary.
Sayangnya, itinerary kami tidak pernah meminta persetujuan cuaca New Zealand.
Sejak matahari terbit,
angin kencang tak kunjung berhenti. Suara gemerosok angin terdengar jelas sekali.
Kami tentu saja memilih mengabaikannya. Aroma masakan dari dapur jauh lebih menggoda.
Yani, Nadda, Saras, dan Stella sedang menyiapkan sarapan buat kami. Ada soto daging segar, ayam goreng, salad buah dan gorengan. Enak sekali.
Kami memang harus makan banyak pagi ini. Hiking di mount Cook akan akan memakan waktu lima jam menurut perkiraan kami. Jadi amunisi perut wajib terisi.
Setelah berfoto keluarga dengan latar perapian yang harus masuk frame, kami mulai mengangkut koper-koper kami dibawa turun ke mobil. Selain kamar Stella dan Nadda, tiga kamar lainnya ada di lantai dua. Jadi pekerjaan angkat-angkat ini cukup merepotkan apalagi harus melewati tangga kayu di airbnb ini.
Setiap pagi kami memiliki ritual baru: menyusun koper ke dalam Toyota Noah. Mobil kami memang cukup luas, tapi barang bawaan kami tidak cukup sedikit untuk bisa ditata seadanya.
Rasanya seperti main tetris. Untuk yang ini, kalau salah menyusun satu balok, kami akan game over karena di antara kami harus ada yang memeluk koper. Rombongan single ini pasti tidak ada yang sudi. Mungkin beda kalau hadiahnya memeluk pasangan. When yh!
![]() |
| Hasil dari Tetris |
Kami mencoba beberapa kombinasi susunan agar koper muat di bagasi belakang sehingga
menyisakan ruang cukup luas untuk kaki-kaki kami. Stella sudah punya skenario susuan koper yang dia pikirkan sampai pagi. Saras juga tanya chatgpt
untuk mengatasi ini. AI sekarang harus bertanggung jawab dengan ruang-ruang di kaki kami, bukan lagi essay kami! Eh?!
Akhirnya ALL SET! Tersusun juga! Berangkat!
![]() |
| Rute Lake Tekapo ke Mount Cook |
x
Mount Cook berjarak 103 km dari Tekapo. Dalam perjalanan ke sana, kami tidak akan melalui kota kecil atau kota perhentian sama sekali. Meski bar bahan bakar kami tinggal 60%, Vergi meyakinkan saya untuk menunda mengisi bensin saja nanti.
Landscapenya full melewati bentang
alam.
Sepanjang perjalanan
dari Tekapo, pemandangan dipenuhi padang sabana yang luas dengan ilalang yang
berwarna coklat. Terasa nampak lega dan damai aja. Situasi yang mungkin agak terasa
nggak relate sama sebagian besar orang Indonesia karena kami nggak nemu warung kelontong dan penjual bensin
eceran sepanjang jalan.
Pemandangan seperti ini kami nikmati sepanjangan empat puluh kilometer. Puasss banget!! Beberapa kali kami juga menemui ladang lavender dan ladang anggur juga. Landscape ini mengingatkan saya waktu road trip di Tasmania.
Pemandangan Tekapo ke Pukaki ini ini mirip sekali dengan
pemandangan luar kota Hobart menuju Launceston. Bedanya, New Zealand lebih sepi
dan harus diakui emang lebih estetik.
Landscape baru berubah setelah kami sampai Lake Pukaki Viewpoint yang jadi tempat istirahat kami.
Dari
sana, kami melewati jalanan yang membentang di antara danau dan deretan pegunungan
yang panjang. Di sisi kanan, pemandangan kami adalah Lake Pukaki dengan air
biru muda yang tenang. Sementara di sisi kami adalah deretan pegunungan Mount
Sealy yang nampak megah dengan salju menutupi puncak-puncaknya.
Cara Nyetir di New
Zealand yang berbeda
Jalanan di South Island ini memang sepi. Namun bukan berarti menyetir di sini lebih leluasa. Peraturan mengemudinya agak beda, terutama soal mendahului kendaraan lain.
Kami harus menunggu sampai area Passing Lane untuk bisa mendahului atau membiarkan mobil lain mendahului. Di Passing Lane, ruas jalan di tambah satu lajur sehingga menjadi makin lebar. Berbeda dengan jalan biasanya hanya satu lajur tiap sisinya.
Kami juga nggak boleh berhenti sembarangan di tepi jalan, meski pemandangan lagi indah atau udah capek. Kami harus menunggu sampai Lookout View. Lookout view jadi tempat khusus ambil foto sekaligus berfungsi kayak rest area lah.
Rerouting ke Salmon
Cuaca buruk yang kami
takutkan dari pagi akhirnya datang juga. Semakin mendekati Mount Cook, hujan justru semakin deras. Awan gelap menggantung merata di sepanjang pegunungan dan sama sekali nggak menunjukkan tanda-tanda akan pergi.
Namun begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan. Siapa tahu nanti reda ketika kami sampai. Lebih ke denial sih!
Kami memilih Hooker Valley sebagai titik awal hiking. Ada beberapa jalur untuk mulai mendaki, tapi rute dari Hooker Valley terasa yang paling masuk akal bagi kami karena rutenya lebih dekat ke puncak dibandingkan titik lain yaitu Edmund Hillary entry.
Yang jadi masalah, tempat ini minim fasilitas. Lokasinya hanya hamparan tanah luas yang diberi parking meter saja, tanpa fasilitas lain seperti cafe, gift shop, atau bangunan lain sebagai tempat berteduh
Waktu kami sampai, hujan masih deras.
Kami memilih berdiam diri sebentar di dalam mobil sambil menimbang-nimbang
apakah kami tetap lanjut hiking dengan sambil hujan atau menggantinya dengan
agenda lain.
Ketika masih bimbang, mulut-mulut
kami tiba-tiba sekata untuk menunda hiking ini esok hari setelah melihat beberapa
pendaki yang berjalan ke arah parkiran dengan badan basah kuyup dan menggigil
kedinginan. Enggak dulu deh!
Saya langsung menyalakan mobil lalu cepat-cepat keluar dari parkiran. Jangan sampai berhenti lebih dari 10 menit! Tarif parkir masih gratis untuk 10 menit pertama, lalu dikenakan tarif cukup mahal $10 per jam. Menghindari parkir adalah salah satu cara kami survive di sini.
Kami masih belum tahu ke
arah mana selanjutnya. Hujan ini membuyarkan seluruh agenda kami. Vergi lalu
kasih ide untuk mencari café terdekat demi membahas kembali semua rencana kami.
Sambil berharap hujan kembali reda.
Saya lalu mengarahkan mobil menuju kota terdekat. Kami lalu berhenti di Sir Edmund Hillary Bar and Café.
Begitu masuk, suasanya cukup berbeda dari bayangan saya. Tempatnya sangat besar. Ada hotel, cafe, dan banyak memorabilia bahkan replika pesawat terbang yang digunakan dalam perjalanan Sir Edmund Hillary. Lebih mirip museum juga sih.
![]() |
| Cafe yang mirip museum juga ga sih? |
Sir Edmund Hillary sendiri adalah warga New Zealand yang terkonfirmasi menjadi manusia pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak Himalaya, bersama local guide bernama Tenzing Norgay.
Kurang lebih dua jam
kami duduk di sana. Kopinya lumayan enak, mirip tipikal kopi di Melbourne
umumnya. Pie dagingnya juga enaaak!! Makin siang makin rame pengunjung juga. Café
ini seakan jadi penampungan buat para calon hikers yang gagal mendaki karena
hujan.
Setelah diskusi, kami
memutuskan menunda pendakian esok hari. Di aplikasi cuaca, esok pagi cerah
sekali lalu diikuti hujan pada siang dan sore harinya. Kami lalu berjanji akan
berangkat pagi hari waktu masih gelap.
Saras dan Nadda
bingung nyari mobil di parkiran
Kami memutuskan untuk lanjut
makan salmon saja karena hujan tak kunjung berhenti. Saya ingat Yani dan Nadda lalu
diskusi mau makan salmon dimana. Ada dua tempat salmon yang enak di sini. Setelah
lihat review google maps, kami sepakat ke High County Salmon. Tempatnya di luar
kota Twizel, sekitar 70 km dari Edmund Hillary.
Jujur saja saat itu, saya mulai khawatir soal bensi kendaraan kami. Perjalanan ke salmon masih jauh sementara indikator bahan bakar tinggal dua bar lebih dikit. Apalagi perjalanan ke sana sama sekali tidak melewati kota perhentian.
Setalah sejam perjalanan, kami sampai di High County. Literally cuman bangunan ini di tengah padang kosong dan pegunungan. Di High Country, salmon mereka ternak sendiri.
![]() |
| Salmon kemasan |
Di
belakang resto, ada banyak kolam-kolam berwarna biru sebagai kandang salmon.
Ada banyak burung seagull juga di sini. Burung-burung ini nampak langsung sigap
kalau ada pengunjung meninggalkan sisa makanan di meja.
![]() |
| Burung di atas kolam Salmon |
Oh ya.. di sini kami
bisa memberi makan salmon juga secara gratis.
Kami memesan salmon sashimi
dan sushi. Saya menambah burger karena kehabisan sushi. Enak dan fresh yaa.. Meski saya agak jijik makan ikan mentah seperti ini!!
![]() |
| Makan Salmon dulu Gaes! |
Puas di sini, kami
memutuskan ke penginapan di kota Twizel. Sekalian mencari pom bensin terdekat.
Pada awal mengambil
mobil, bensin memang sudah full. Setelah hari ketiga, kami baru mau isi bensin
ini.
Kota Twizel ini kecil
sekali. Meski kecil, ada dua pom bensin, dua Foursquare, dan banyak sekali
motel dan airbnb di sini. Jelas sekali kalau di kota ini banyak yang menggantungkan
hidupnya dari para road tripper seperti kami.
Kami menginap di Twizel Central. Kami sewa tiga kamar di sini. Masing-masing dipakai dua orang. Setelah kami check ini, pengelola memasang tanda “fully booked” di depan di tepi jalan.
![]() |
| Twizel Central, penginapan kami |
Yaa, sebenarnya cuman ada lima kamar di sini. Selain kamar yang kami sewa, ada dua kamar pemilik yang ramah menyapa kami sambil mengikat anjingnya yang sepertinya ingin bermain bersama kami.
Setelah keluar mencari
groceries di dekat penginapan, saya lalu kehilangan kesadaran. Tidur tepar sampai
lupa ganti baju dan makan. Kayaknya baru sekitar jam 7 malam waktu itu. Saya
lalu kebangun tengah malam karena belum makan. Lalu membaca WA group dimana
Saras kirim foto langit yang penuh bintang.
![]() |
| Langit di Twizel |
Dengan pop mie
Indonesia yang dijual di kota antah berantah di remote area New Zealand, saya
lalu menyantapnya dengan sosis sapi NZ sambil menikmati malam yang sangat sunyi
dan bima sakti yang menemani. Inilah hari kedua kami.









Posting Komentar untuk "Tujuh Hari Untuk Selamanya: Day 2 - Tidak Bersahabat dengan Cuaca"